Dapen Pertamina Jual Saham Elnusa Rp40 Miliar

Selasa 23 Februari 2021 12:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 23 278 2366784 dapen-pertamina-jual-saham-elnusa-rp40-miliar-1rAqkjTPgM.jpg Dapen Pertamina Jual Saham Elnusa. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Dana pensiun (Dapen) PT Pertamina kembali menjual 100.067.000 lembar saham atau setara 1,4% kepemilikan pada PT Elnusa Tbk (ELSA). Dapen Pertamina menjelaskan bahwa penjualan kepemilikan tersebut untuk divestasi.

Disebutkan, Dapen Pertamina melakukan transaksi tersebut terjadi dalam tiga hari bursa yakni pada tanggal 9,17 dan 18 Februari 2021 di harga Rp401 per lembar. Sehingga Dapen Pertamina meraup Rp40,12 miliar.

Baca Juga: Target Produksi Minyak 1 Juta Barel/Hari, Begini Langkah Elnusa

Dengan demikian, Dapen Pertamina kini hanya memegang 729.781.000 lembar saham atau 10% ELSA, dari sebelumnya 11,4%. Sebelumnya, Dana Pensiun Pertamina telah menjual sebanyak 178.361.400 lembar saham atau setara 2,4% kepemilikan pada ELSA di harga Rp373 per saham dalam empat hari bursa.

Adapun transaksi itu terjadi pada tanggal 27, 28, 29 Januari 2021 dan 1 Februari 2021. Sehingga setelah transaksi tersebut, Dapen Pertamina memegang sebanyak 909.046.100 lembar saham atau 12,5% porsi saham ELSA. Sebagai informasi, di kuartal tiga 2020, ELSA mencatatkan laba bersih sebesar Rp187 miliar atau turun 21,42% dibanding periode yang sama tahun lalu yang dengan laba sebesar Rp238,26 miliar. Penurunan yang sama juga terjadi pada pendapatan perseroan sebesar 2,53% menjadi Rp 5,76 triliun dibandingkan kuartal tiga 2019 membukukan pendapatan Rp 5,81 triliun.

Baca Juga: Atasi Tumpahan Minyak, Elnusa Petrofin Raih Penghargaan IDX Channel

Direktur Utama ELSA, Ali Mundakir pernah bilang, triple shock yang dihadapi perseroan saat ini berimbas pada perubahan skala prioritas beberapa pekerjaan jasa hulu migas, marjin profitabilitas yang kompetitif pada jasa EPCOM, serta fluktuasi kurs Rupiah yang cukup dinamis.

”Fluktuasi harga minyak dunia yang berimbas pada berkurangnya geliat aktivitas migas, pandemi Covid-19 yang menyebabkan penurunan konsumsi BBM nasional serta fluktuasi nilai tukar Rupiah yang dinamis, merupakan tiga faktor eksternal yang membayangi industri energi dan migas saat ini,” ujarnya, dikutip dari Harian Neraca, Selasa (23/2/2021).

Adapun beban pendapatan tercatat sebesar Rp5,14 triliun atau turun 3,38% dibanding akhir kuartal III 2019 sebesar Rp5,32 triliun. Sehingga laba kotor tercatat sebesar Rp614,48 miliar atau tumbuh 3,19% dibanding akhir September 2019 sebesar Rp595,34 miliar.

Pada jasa hulu migas, beberapa proyek besar yang mendukung pertumbuhan, antara lain, rampungnya pekerjaan survei seismik 2D Komitmen Kerja Pasti Jambi Merang, serta peningkatan produktivitas hydraulic workover unit & electric wireline logging.

Kemudian untuk tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan lebih dari Rp 7 triliun.

“Untuk 2021 kami yakin, walaupun kondisi ketidakpastian masih tinggi, setidaknya pendapatan lebih tinggi dari estimasi tahun lalu bisa mencapai lebih dari Rp 7 triliun,” kata Head of Corporate Communication Elnusa, Wahyu Irfan.

Sementara itu, laba diperkirakan bisa mencapai Rp200 miliar pada akhir tahun lalu. Oleh karena pendapatan diharapkan lebih tinggi, perolehan laba pun diyakini bisa melebihi Rp200 miliar pada akhir 2021 nanti. Pendapatan anak usaha dari PT Pertamina ini sebesar Rp7 triliun pada akhir 2020 mencerminkan penurunan sebesar 16,51% dibandingkan 2019 senilai Rp8,38 triliun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini