Wall Street Mixed, Nasdaq dan S&P 500 Lesu

Selasa 23 Februari 2021 08:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 23 278 2366636 wall-street-mixed-nasdaq-dan-s-p-500-lesu-QrKMfKf8OZ.jpg Bursa saham Wall Street ditutup mixed (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Wall Street beragam pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), dengan S&P 500 dan Nasdaq ditutup lebih rendah karena kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan prospek kenaikan inflasi memicu kekhawatiran valuasi, memukul saham-saham perusahaan dengan pertumbuhan tinggi.

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 27,37 poin atau 0,09% menjadi menetap di 31.521,69 poin. Indeks S&P 500 merosot 30,21 poin atau 0,77%, menjadi berakhir di 3.876,50 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup berkurang 341,41 poin atau 2,46%, menjadi 13.533,05 poin, dilansir dari Antara, Selasa (23/2/2021).

Baca Juga: Wall Street Bergerak Flat, Indeks S&P Turun 7 Poin

Enam dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan saham sektor energi melonjak 3,47%, memimpin kenaikan. Sementara itu, saham sektor teknologi jatuh 2,26%, memimpin kerugian. Indeks Dow berakhir sedikit lebih tinggi, terangkat oleh lonjakan 4,0% saham Walt Disney Co.

Imbal hasil obligasi AS 10-tahun naik menjadi 1,363%. Sejak awal Februari, imbal hasil obligasi 10-tahun telah meningkat sekitar 26 basis poin, di jalur untuk kenaikan bulanan terbesar mereka dalam tiga tahun.

Baca Juga: Heboh GameStop, Yellen Minta Otoritas Bursa Pantau Ketat

Namun, beberapa analis mencatat bahwa penurunan saham diperkirakan terjadi setelah reli panas tahun ini dan pada tahun lalu.

"Ini adalah kemunduran kecil terutama karena saham menjadi sedikit terlalu panas dan ada beberapa kekhawatiran di luar sana bahwa orang membuat sedikit kesulitan yang tampak seperti masalah serius," kata Brian Reynolds, kepala strategi pasar di Strategi Reynolds.

Dia mengutip kekhawatiran tentang kenaikan imbal hasil obligasi, tetapi mencatat bahwa imbal hasil obligasi sampah (junk bond) mencapai posisi terendah sepanjang masa minggu lalu, menunjukkan telah ada pergeseran dari keamanan obligasi pemerintah ke risiko korporasi di antara investor.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell dijadwalkan akan berbicara di depan Komite Perbankan Senat pada Selasa, dan investor diperkirakan mencari kemungkinan perubahan pada prospek dovish bank sentral.

“Apa yang dihadapi para investor ... adalah apa artinya (imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih tinggi) dari perspektif inflasi. Karena itu, ada sedikit amukan di pasar saat ini," kata Lindsey Bell, kepala strategi investasi di Ally Invest, di Charlotte, North Carolina.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini