Wall Street Jatuh, Indeks S&P dan Nasdaq Turun Takhta

Antara, Jurnalis · Rabu 27 Januari 2021 07:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 27 278 2351442 wall-street-jatuh-indeks-s-p-dan-nasdaq-turun-takhta-jkef2itUzp.jpg Wall Street (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Wall Street jatuh pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), dengan Indeks S&P dan Indeks Nasdaq tergelincir dari rekor penutupan tertinggi ketika investor mencerna sejumlah hasil laba perusahaan, sementara ekspektasi pengumuman kebijakan Federal Reserve (Fed) pada Rabu waktu setempat membantu membatasi kerugian.

Indeks Dow Jones Industrial Average berkurang 22,96 poin atau 0,07 persen menjadi ditutup di 30.937,04 poin. Indeks S&P 500 turun 5,74 poin atau 0,15 persen menjadi menetap di 3.849,62 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir menyusut 9,93 poin atau 0,07 persen, menjadi 13.626,06 poin.

Ketiga indeks utama lebih tinggi pada awal perdagangan dengan Indeks Dow Jones naik lebih dari 160 poin pada tertinggi sesi. Sehari sebelumnya, Indeks S&P 500 dan Indeks Komposit Nasdaq bertengger di rekor penutupan tertinggi. Untuk Indeks Nasdaq, penurunan juga menghentikan kenaikan beruntun lima sesi, kenaikan harian terpanjang sejak awal November.

Baca Juga: Wall Street Bervariasi, Indeks S&P dan Nasdaq Catat Rekor Tertinggi 

Enam dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan energi merosot 2,12 persen, memimpin penurunan. Sedangkan, sektor real estat terangkat 1,14 persen, merupakan kelompok dengan kinerja terbaik.

Saham 3M Co naik 3,26 persen sebagai salah satu pendorong terbesar di Dow setelah mendapat keuntungan dari biaya yang lebih rendah dan permintaan untuk masker respirator sekali pakai, pembersih tangan dan kacamata pengaman di tengah lonjakan infeksi virus corona.

Johnson & Johnson juga memberikan dorongan kuat, naik 2,71 persen karena produsen obat itu mengatakan pihaknya memperkirakan akan melaporkan data vaksin COVID-19 yang ditunggu-tunggu awal minggu depan.

Dari 84 perusahaan di S&P 500 yang membukukan laba hingga Selasa pagi (26/1/2021), 86,9 persen telah melampaui ekspektasi analis, menurut data Refinitiv.

Namun, beberapa perusahaan menunjukkan dampak pandemi terhadap bisnis mereka. American Express Co turun 4,13 persen dan merupakan beban terbesar di Dow setelah membukukan penurunan laba kuartalan sebesar 15 persen ketika pandemi menyebabkan penguncian dan pembatasan bisnis membuat anggota penerbit kartu kredit tersebut tidak bepergian dan makan di luar.

Verizon kehilangan 3,17 persen setelah perusahaan membukukan laba yang melampaui ekspektasi tetapi meleset dari perkiraan untuk pelanggan telepon prabayar.

“Ini masih merupakan hari-hari awal tetapi kami sedang membahasnya di sini,” kata Kepala Strategi Investasi Inverness Counsel, Tim Ghriskey, di New York.

“Harapannya adalah kelanjutan dari kejutan positif besar yang kami lihat pada kuartal terakhir. Risikonya adalah jika ekspektasi sudah ada dan ada kekecewaan, Anda mendapatkan saham seperti yang Anda lihat di American Express hari ini semakin terpuruk."

Setelah bel penutupan, saham Microsoft naik 5,20 persen karena raksasa teknologi itu mengalahkan perkiraan Wall Street untuk pertumbuhan pendapatan dalam bisnis komputasi awan Azure yang mendapat manfaat dari pergeseran global ke pembelajaran dan pekerjaan di rumah.

Sedikit, jika ada, perubahan diharapkan dalam pernyataan kebijakan Federal Reserve AS pada akhir pertemuan dua hari pada Rabu, dengan Ketua Fed Jerome Powell kemungkinan akan membahas inflasi dalam konferensi pers pasca pertemuan.

Kemajuan dalam pembicaraan stimulus juga menjadi fokus, dengan Pemimpin Mayoritas Senat AS Chuck Schumer mengatakan Demokrat akan melanjutkan rencana bantuan Virus Corona Presiden Joe Biden tanpa dukungan dari Partai Republik jika perlu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini