Wall Street Melemah Diserang Aksi Ambil Untung

Selasa 12 Januari 2021 08:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 12 278 2342872 wall-street-melemah-diserang-aksi-ambil-untung-HtKLa886AQ.jpg Bursa saham Wall Street ditutup melemah (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Indeks-indeks utama Wall Street jatuh pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Wall Street anjlok karena investor mengambil beberapa keuntungan dari rekor tertinggi sepanjang masa yang mereka cetak minggu lalu, sementara menunggu musim laporan laba dimulai dan mengamati peristiwa di Washington.

Indeks Dow Jones Industrial Average berkurang 89,28 poin atau 0,29% menjadi ditutup di 31.008,69 poin. Indeks S&P 500 turun 25,07 poin atau 0,66% menjadi berakhir pada 3.799,61 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup jatuh 165,54 poin atau 1,25%, menjadi 13.036,43 poin, dilansir dari Antara, Selasa (12/1/2021).

Baca Juga: Wall Street Cetak Rekor, Indeks Nasdaq Pimpin Penguatan

Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan consumer discretionary dan layanan komunikasi masing-masing merosot 1,89% dan 1,76%, memimpin kerugian. Sementara sektpr energi terangkat 1,62%, merupakan sektor dengan kinerja terbaik.

Saham-saham AS telah reli kuat minggu lalu ketika investor bertaruh bahwa kemenangan Demokrat dalam pemilihan putaran kedua di Georgia akan membawa kemungkinan yang lebih tinggi dari paket stimulus fiskal yang lebih kuat untuk meningkatkan ekonomi yang dihantam pandemi.

 

Tetapi beberapa investor khawatir stimulus dapat ditunda karena Demokrat DPR memperkenalkan resolusi untuk mendakwa Presiden AS Donald Trump, menuduhnya menghasut pemberontakan menyusul serangan kekerasan di Capitol oleh para pendukungnya.

Investor mengalihkan fokus mereka ke Washington. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Nancy Pelosi mengatakan bahwa Demokrat siap memulai proses untuk memakzulkan Presiden Donald Trump untuk kedua kalinya hanya dalam waktu satu tahun.

"Ketika pasar melihat sesuatu yang sama pentingnya dengan pemerintahan Amerika Serikat, bahkan sedikit ketidakpastian dapat memiliki dampak yang berarti," kata Brad McMillan, kepala investasi di Commonwealth Financial Network di Waltham, Massachusetts.

McMillan mengatakan investor juga khawatir tentang lebih banyak serangan. FBI telah memperingatkan kemungkinan protes bersenjata yang sedang direncanakan untuk Washington DC, dan di semua 50 ibu kota negara-negara bagian AS menjelang pelantikan Presiden terpilih Joe Biden pada 20 Januari, sumber penegak hukum federal mengatakan pada Senin (11/1/2021).

"Secara umum, Washington tidak membuat terlalu banyak perbedaan, tetapi karena kebijakan memengaruhi begitu banyak hal yang diharapkan seputar perekonomian, ini adalah waktu yang unik," kata McMillan.

Tetapi imbal hasil obligasi AS naik ketika obligasi safe haven dijual pada Senin (11/1/2021) dan sektor yang sensitif secara ekonomi seperti energi dan keuangan berkinerja lebih baik, sementara sektor proksi obligasi defensif seperti utilitas dan real estat dilanda aksi jual.

Perdagangan ini menunjukkan, kata Keith Lerner, kepala strategi pasar di Truist Advisory Services di Atlanta, Georgia, bahwa investor masih berharap tentang stimulus.

Dan bersama dengan kewaspadaan tentang sembilan hari terakhir Trump menjabat, Lerner mengutip ketidakpastian menjelang dimulainya musim laporan laba tidak resmi pada Jumat (15/1/2021) ketika bank-bank seperti JPMorgan melaporkan kinerja keuangannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini