Mengintip Perjalanan Merger 3 Bank BUMN Syariah Jadi Bank Syariah Indonesia

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 21 Desember 2020 10:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 21 278 2331311 mengintip-perjalanan-merger-3-bank-bumn-syariah-jadi-bank-syariah-indonesia-z4Yba6pEwt.jpg Bank Syariah Indonesia (Foto: Okezone)

JAKARTA - Tiga bank syariah anak usaha BUMN digabungkan menjadi satu perusahaan merger yang kini bernama Bank Syariah Indonesia. Sebagai langkah awal, ketiga bank ini telah melakukan penandatangan Conditional Merger Agreement (CMA) Bank BUMN Syariah.

Pasalnya, merger anak usaha BUMN ini akan membawa perbankan Syariah ditingkat global. Apalagi, pangsa pasar di negara Indonesia sangatlah besar karena mayoritas beragama Islam.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyebut marger tiga bank syariah milik negara segera dilakukan. Diharapkan merger ini beroperasi mulai 1 Februari 2021.

Baca Juga: 8 Fakta Bank Syariah Indonesia hingga Peringatan Wapres 

Menurutnya, dengan penggabungan tiga bank syariah tersebut nantinya total aset yang dimiliki mencapai Rp225 triliun. Aset tersebut diperkirakan akan terus tumbuh yang mana pada 2025 diperkirakan mencapai Rp390 triliun.

Tak hanya itu, bank syariah ini juga akan memiliki kantor cabang sebanyak 1.200 di seluruh Indonesia. Dengan aset tersebut diharapkan marger ini bisa kompetitif baik di dalam negeri maupun global.

“Dengan bergabungnya ketiga Bank Syariah tersebut maka nantinya total aset yang dimiliki besarnya sekitar Rp225 triliun dengan 1.200 kantor cabang di seluruh pelosok tanah air. Diperkirakan pada 2025 asetnya akan mencapai Rp390 triliun sehingga mampu bersaing secara kompetitif di tingkat nasional, regional, maupun global,” ujarnya kepada media, Jumat (23/10/2020).

 

Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, penandatanganan Conditional Merger Agreement (CMA) sebagai awal dari proses bersejarah lahirnya bank umum syariah nasional berkaliber global. Bank syariah hasil merger ini pun segera menjadi energi baru perekonomian Indonesia.

"Ini bisa mewujudkan sebuah bank syariah Nasional yang solid dan berkaliber global," ujar Erick.

Kemudian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai tidak ada isu krusial apapun yang timbul dari merger tiga bank syariah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Penggabungan usaha ketiga perusahaan ini justru dianggap bisa menjadi model bagi bank-bank lain jika hendak melakukan merger.

Menurut Sekretaris Bidang Perbankan Syariah BPH Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) Muhammad Maksum, merger ini tidak menyisakan masalah karena penggabungan usaha dilakukan sesama bank syariah. Catatan krusial baru muncul seandainya merger dilakukan bank syariah dengan bank konvensional.

“Karena yang merger ini adalah sama-sama bank syariah, ibarat orang menikah itu sesama muslim, selesai nggak ada urusan, nggak ada isu. Saya kira penggabungan tiga bank ini akan menjadi model bagi bank-bank lain yang akan melakukan merger atau penggabungan,” ujar Maksum di Jakarta, Senin (9/11/2020).

Menindaklanjuti proses penggabungan bank syariah itu, PT Bank BRIsyariah Tbk (BRIS) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 15 Desember 2020. RUPSLB akan diadakan di Java Ballroom Hotel Millennium, Jakarta.

Nama hasil merger tiga bank syariah adalah Bank Syariah Indonesia. Hery Gunardi diangkat sebagai Direktur Utama Bank Syariah hasil merger.

Bank Syariah Indonesia akan memiliki aset mencapai Rp214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun.

Jumlah aset dan modal inti tersebut menempatkan Bank Hasil Penggabungan dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset, dan top 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar dalam 5 tahun ke depan.

"Selain memiliki aset dan modal inti besar, bank hasil penggabungan juga akan didukung dengan keberadaan lebih dari 1.200 cabang, 1.700 jaringan ATM, serta didukung 20.000 lebih karyawan di seluruh Indonesia, Bank Hasil Penggabungan akan mampu memberikan layanan finansial berbasis syariah, layanan sosial bahkan spiritual bagi lebih banyak nasabah," kata Ketua Project Management Office Integrasi Hery Gunardi.

Hery Gunardi memastikan segala rencana perubahan dan penyesuaian operasional telah sesuai dengan tujuan dan kegiatan operasional bank hasil merger, yang memiliki visi menjadi top 10 bank syariah terbesar di dunia dalam 5 tahun ke depan dan sebagai top 10 bank terbesar di Indonesia.

“Kehadiran Bank Syariah Indonesia akan menjadi tonggak kebangkitan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, entitas baru ini tentu memerlukan identitas yang kuat dan direksi yang berpengalaman untuk menjalankan operasionalnya," katanya di Jakarta.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini