Wall Street Mixed, Indeks S&P Cetak Rekor Tertinggi

Kamis 03 Desember 2020 08:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 03 278 2320652 wall-street-mixed-indeks-s-p-cetak-rekor-tertinggi-IkQ6MSVtTY.jpg Wall Street (Foto: Reuters)

JAKARTA - Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street bervariasi pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), dengan indeks S&P 500 naik ke rekor penutupan tertinggi.

Sementara, indeks Nasdaq merosot saat investor mempertimbangkan perkembangan vaksin yang positif dan paket fiskal potensial virus corona terhadap laporan pekerjaan swasta yang suram.

Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 59,87 poin atau 0,20% menjadi ditutup di 29.883,79 poin. Indeks S&P 500 naik 6,56 poin atau 0,18% menjadi berakhir di 3.669,01 poin. Indeks Komposit Nasdaq turun 5,74 poin atau 0,05% menjadi menetap di 12.349,37 poin.

Baca Juga: Disuntik Vaksin Covid-19, Wall Street Perkasa 

Enam dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir lebih tinggi, dengan energi melonjak 3,15% mengungguli sektor lainnya. Sektor material tergelincir 1,38%, merupakan kelompok dengan kinerja terburuk.

Partai Republik dan Demokrat di Kongres tetap tidak dapat mencapai kesepakatan tentang bantuan baru untuk ekonomi AS yang dilanda pandemi, meskipun beberapa investor mengatakan berita ekonomi yang buruk dapat memacu para pembuat kebijakan bekerja lebih keras guna mencapai kesepakatan.

Pemimpin Mayoritas DPR AS Steny Hoyer juga mengungkapkan harapan bahwa kesepakatan dapat dicapai "dalam beberapa hari mendatang."

Tanda-tanda kemajuan dalam perlombaan untuk mendistribusikan vaksin telah mendorong saham-saham AS lebih tinggi dalam beberapa hari terakhir.

Dalam perkembangan optimis terbaru, vaksin COVID-19 Pfizer Inc dan BioNTech mendapat lampu hijau untuk digunakan di Inggris, negara Barat pertama yang menyetujui suntikan COVID-19. Saham Pfizer melonjak 3,5% dan BioNTech melonjak sekitar 6,0%.

Menggarisbawahi argumen untuk stimulus fiskal, data menunjukkan penggajian swasta meningkat lebih rendah dari yang diharapkan pada November, kemungkinan karena melonjaknya infeksi baru dan pembatasan bisnis menghambat pemulihan pasar tenaga kerja.

Selain itu, laporan Beige Book Federal Reserve menunjukkan "sedikit atau tidak ada pertumbuhan" di empat dari 12 distrik bank sentral AS dan hanya pertumbuhan sedang di tempat lain dalam beberapa pekan terakhir. Demikian seperti dilansir Antara, Jakarta, Kamis (3/12/2020).

Setiap tanda potensial dari pasar tenaga kerja yang memburuk dalam laporan pekerjaan yang lebih luas pada Jumat (4/12/2020) dapat memberikan lebih banyak tekanan pada Kongres untuk menyetujui paket stimulus, kata Ross Mayfield, seorang analis strategi investasi di Baird.

"Mereka mengamati hal ini seperti halnya investor," kata Mayfield. "Ini bisa menjadi salah satu laporan di mana kabar buruk adalah kabar baik jika memacu pemangku kepentingan yang tepat untuk bergabung."

Pembaruan positif pada vaksin virus corona telah membantu investor meningkatkan taruhan pada pemulihan ekonomi yang cepat tahun depan, mendorong S&P 500 dan Nasdaq ke rekor tertinggi pada Selasa (1/12/2020).

Mendapatkan paket stimulus yang murah hati melalui Kongres adalah prioritas utama, kata Presiden terpilih Joe Biden dalam sebuah wawancara dengan New York Times. Dia juga mengatakan dia tidak akan segera membatalkan kesepakatan perdagangan Fase 1 yang dibuat Trump dengan China.

Hambatan terbesar pada blue-chips Dow adalah kemerosotan hampir 9,0% di Salesforce.com Inc setelah perusahaan perangkat lunak itu setuju untuk membeli penyedia aplikasi perpesanan tempat kerja Slack Technologies Inc dalam kesepakatan USD28 miliar saat bertaruh tentang perpanjangan bekerja jarak jauh. Slack turun lebih dari 2,0%.

Saham penyedia layanan data cloud NetApp Inc melonjak 9,0% setelah memperkirakan laba kuartal ketiga di atas ekspektasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini