18 Calon Emiten Berduyun-duyun Cari Modal di Bursa

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Senin 09 November 2020 19:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 09 278 2306864 18-calon-emiten-berduyun-duyun-cari-modal-di-bursa-Sxgt4rCjVg.jpg saham (Shutterstock)

JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 18 perusahaan yang akan melantai di pasar perdana atau melakukan Initial Public Offering (IPO). Pencatatan saham perdana itu akan berlangsung dari November-Desember 2020.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, ke-18 emiten itu berasal dari berbagai sektor bisnis. Sejumlah perseroan itu saat ini masih melakukan evaluasi penawaran umum sebelum IPO akan berlangsung pada dua bulan ke depan.

 Baca juga: BEI Targetkan Jumlah Transaksi Rp1,2 Triliun dari Trading Online

"Saat ini, masih terdapat 18 perusahaan yang berencana akan melakukan pencatatan saham. Masih menjalani proses evaluasi penawaran umum dan diperkirakan aksi IPO pada November-Desember 2020," ujar Gede, Jakarta, Senin (9/11/2020).

Adapun rinciannya yakni tujuh perusahaan dari sektor perdagangan jasa dan investasi, tiga perusahaan dari sektor properti, real estate dan konstruksi bangunan, dua perusahaan dari sektor industri barang konsumsi, dua perusahaan dari sektor aneka industri, dua perusahaan dari sektor pertanian, satu perusahaan dari sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi, serta satu perusahaan dari sektor keuangan.

 Baca juga: Ada Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif Tahap II, BEI Buat 4 Aturan

Hingga November 2020 ini, BEI mencatat terdapat 135 penerbitan efek baru. Jumlah itu terdiri atas 46 saham, 89 obligasi atau sukuk, 7 exchange traded fund (ETF), dan 1 efek beragun aset (EBA).

BEI baru saja meluncurkan platform perdagangan elektronik atau Electronic Trading Platform (ETP). Platform tersebut dinamai Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif atau (SPPA) tahap II.

SPPA akan digunakan dalam transaksi di perdagangan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) di pasar sekunder. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widito Widodo menyebut, minat pelaku pasar terhadap menggunakan sistem ETP dinilai cukup tinggi. Sehingga pihaknya menargetkan pada 2021 jumlah transaksi harian melalui SPPA mencapai Rp1,1 triliun- Rp1,2 triliun dari total transaksi surat utang.

"Kami menargetkan, di tahun 2021 jumlah transaksi rata-rata harian SPPA mencapai Rp1,1 triliun hingga Rp1,2 triliun dari total transaksi surat utang,” ujar Laksono.

Sejak peluncuran pada Rabu hari ini, BEI mencatat, perdagangan transaksi di pasar sekunder mencapai 21 transaksi dengan nilai Rp 245,5 miliar. Hal ini berbanding terbalik dengan peluncuran SPPA pada tahap I yang diluncurkan pada 2016 lalu, di mana tidak terjadi transaksi dalam perdagangan di pasar sekunder tersebut.

"Ini merupakan sejarah, bayangkan ETP tahap I selama 4 tahun tidak ada transaksi sama sekali. Ini SPPA hari pertama sudah begitu banyak," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini