Investasi Saham dan Obligasi, Lebih Untung Mana?

Rina Anggraeni, Jurnalis · Kamis 29 Oktober 2020 18:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 29 278 2301185 investasi-saham-dan-obligasi-lebih-untung-mana-2ogr5uriPk.jpg Saham (Shutterstock)

JAKARTA - Berbagai jenis investasi saat ini bisa menjadi pilihan menjanjikan bagi Anda. Pasalnya, investasi sangat berguna untuk masa depan orang yang melakukannya. Seperti investasi jangka panjang yang sudah pasti bertujuan untuk mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang.

Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama mengatakan agar memilih investasi saham dan obligasi. Pasalnya, Investasi saham memiliki potensi keuntungan yang besar. Keuntungan yang akan diperoleh investor yang membeli sebuah saham yaitu berdasarkan capital gain dan pembagian dividen.

 Baca juga: Investor Pemula Manfaatkan Covid-19 Raup Cuan di Pasar Modal, Caranya?

Misalnya, jika Anda membeli saham A dengan harga per lembarnya Rp 10.000 dan kemudian Anda menjualnya dengan harga Rp11.000 per lembar, berarti Anda mendapat capital gain sebesar Rp 1.000 di setiap lembar saham yang Anda jual.

"Secara sederhana, capital gain merupakan keuntungan yang didapatkan dari selisih harga beli dan harga jual suatu saham, yang mana harga jual saham lebih tinggi dari harga belinya," ujar Nafan saat dihubungi MNC News Portal, Jakarta, Kamis (29/10/2020).

 Baca juga: Miliki 3 Juta Investor, Transaksi Harian Pasar Modal RI Tertinggi di Asean

Selain itu, investasi saham bisa membuat anda mendapatakan dividen yanh merupakan keuntungan yang berasal dari perusahaan.

"Jadi, bagian dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan dibagikan juga kepada pemegang saham. Dividen bisa dalam bentuk tunai di mana perusahaan memberikan sejumlah uang tunai untuk setiap lembar saham," bebernya.

Sedangkan, investasi obligasi memiliki keuntungan yang bisa dilihat dari hasil berjalan. Sejumlah jenis SBN seperti obligasi seri FR, obligasi seri INDON, Obligasi Negara Ritel (ORI) atau Sukuk Ritel (SR) dapat diperdagangkan di sebuah market bernama pasar sekunder.

"Dengan keberadaan pasar sekunder ini, investor dapat mencairkan investasi obligasi miliknya apabila membutuhkan dana secara mendadak. Penjualan obligasi di pasar sekunder tersebut perlu mempertimbangkan mengenai faktor harga obligasi yang bergerak dinamis," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini