Strategi Bermain Saham ala 'Warren Buffett Indonesia'

Taufik Fajar, Jurnalis · Sabtu 24 Oktober 2020 19:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 24 278 2298994 strategi-bermain-saham-ala-warrent-buffett-indonesia-TEkJiUDxcY.jpg Lo Kheng Hong (Okezone)

JAKARTA - Ilmu pengetahuan kunci utama bila mau memulai investasi saham. Paham terhadap jual dan beli saham di bisa mengurangi risiko kerugian saat memutuskan untuk berinvestasi.

Lalu bagaimana startegi di pasar modal dalam situasi pandemi Covid-19?

 Baca juga: Investor Pemula Manfaatkan Covid-19 Raup Cuan di Pasar Modal, Caranya?

Menurut Lo Kheng Hong startegi di tengah pandemi ini yakni belilah saham dalam situasi Covid-19. Sebab pada saat pandemi ini saham-saham turun dan belilah perusahaan yang bagus serta murah.

"Jadi belilah saham di pandemi ini. Dan uang kita belikan untuk saham," ujar dia dalam acara CMSE 2020, Sabtu (24/10/2020).

Lo Kheng Hong yang dijuluki 'Warren Buffett-nya Indonesia' menambahkan, saham-saham setelah pandemi dan adanya vaksin pasti saham akan kembali pada naik.

 Baca juga: Investor Pemula, Begini Cara Ukur Kenaikan Harga Saham

"Jadi belilah sekarang Jangan sampai ketinggalan kereta. Itulah starteginya," ungkap dia.

Investasi saham membutuhkan manajemen keuangan dan manajemen psikologis yang baik. Kesabaran investor saham diuji ketika memperoleh saham yang turun saat dibeli, tetapi malah naik saat dijual. Terkadang saat memegang saham yang harganya terus merangkak naik, kedisiplinan investor pun diuji.

Emosi ketakutan (fear) dan keserakahan (greed) memainkan peranan besar dalam pengambilan keputusan investasi saham, terutama saat menginginkan keuntungan dalam jumlah besar di waktu yang singkat.

 Baca juga: Saham Farmasi Lagi Dikelilingi Dewi Fortuna, Beli Lagi atau Jual Saja?

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman, serta hasil diskusi dengan para trader dan komunitas trader, Direktur IT & Online trading MNC Sekuritas Fifi Virgantria menyampaikan rasa takut dan serakah harus dapat dikendalikan, sehingga investasi saham berjalan dengan maksimal. Rasa takut itu wajar. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengontrol ketakutan kita supaya tidak berlebihan, sehingga tidak mendominasi keputusan saat berinvestasi saham, jelasnya.

"Rasa takut yang berlebihan justru akan menyebabkan takut menghadapi risiko, sehingga kita melewatkan banyak peluang yang baik. Sikap ragu-ragu membuat kita terlalu lama mengambil keputusan, padahal eksekusi di dunia saham harus cepat supaya momentum masih ada di genggaman," kata Fifi.

Selain rasa takut, investor saham juga wajib waspada terhadap rasa serakah. Kadang harga saham sudah melambung, investor malah makin terpacu untuk ikut membeli karena FOMO (Fear of Missing Out). Tidak bisa dipungkiri, terkadang juga akan ada momen yang membuat investor sangat ingin mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi lagi. Hal ini karena pada dasarnya, manusia seringkali sulit merasa puas dan selalu ingin mendapatkan yang lebih.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini