Saham Perusahaan Teknologi Ini Merosot 7%, Kok Bisa?

Fadel Prayoga, Jurnalis · Selasa 20 Oktober 2020 13:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 20 278 2296537 saham-perusahaan-teknologi-ini-merosot-7-kok-bisa-qJPpSBqO5V.jpg Saham IBM Turun hingga 7%. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - International Business Machines Corporation (IBM) mengalami penurunan harga jual saham pada perdagangan Senin 19 Oktober 2020. Hal tersebut karena sentimen negatif berupa laporan keuangan perusahaan yang menunjukkan penurunan pendapatan selama tiga kuartal berturut-turut.

Head of Technical Analysis Ari Wald menyebut, harga saham yang dimiliki akan kembali meningkat seperti sektor teknologi lainnya. "Saya pikir kinerja buruk terus berlanjut. Saham ini telah merosot ke titik terendah selama tujuh tahun terakhir sejak 2013. Itu adalah tanda kelemahan relatif, dan mengapa menurut kami saham ini terus berkinerja buruk di sektor teknologi dan naik dengan kecepatan yang lebih rendah," kata Wald seperti dilansir dari CNBC, Selasa (20/10/2020).

Baca Juga: Gonjang-ganjing Stimulus hingga Pilpres AS Bayangi IHSG

Sepanjang tahun ini, harga saham IBM turun sebesar 7%. Ini berbanding terbalik bila melihat industri teknologi lain, yang mana mengalami peningkatan harga hingga lebih dari 30%. Pada perdagangan Senin sore, saham IBM dijual dengan harga USD125 per saham.

“Saya pikir IBM terus bergerak sedikit lebih tinggi dengan pasar jika kita mendapatkan kemajuan yang lebih luas seperti yang kita harapkan dengan level dukungan utama di USD124. Itu adalah titik terendah IBM baru-baru ini. Lebih positif daripada tidak di atas sana, ” kata Wald.

Baca Juga: IHSG Diprediksi Menguat, Saham EXCL hingga WSKT Jadi Rekomendasi

Sementara itu, Founder of New Street Advisors Delano Saporu menyatakan, pihaknya sedang dalam posisi menunggu saja. Dia mengaku sedang menunggu inovasi yang akan dijalankan IBM dalam menjalankan bisnisnya.

“Langkah-langkah yang diambil manajemen, kami masih perlu waktu untuk melihat apakah strategi-strategi tersebut dapat dijalankan dengan benar. Kami telah melihat bahwa pertumbuhan garis atas masih terhenti untuk sementara waktu dan pasar serta investor belum terlalu menyukai apa yang mereka lihat dari sudut pandang itu,” kata Saporu.

“Saya hanya berpikir kita perlu melihat lebih banyak eksekusi dari apa yang telah dilakukan manajemen untuk bisa terjun dengan modal yang signifikan saat itu,” lanjut Saporu.

CEO IBM Arvind Krishna berharap berharap untuk menyelesaikan spin-off-nya pada akhir 2021. Secara sederhana spin off perusahaan dapat dipahami sebagai pemisahan sebagian perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas secara hukum menjadi dua atau lebih perusahaan baru.

“Awal bulan ini akan memungkinkan perusahaan untuk menangkap peluang baru," kata Krishna

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini