Pulih dari Covid-19, Pasar Saham China Cetak Rekor Tertinggi

Fadel Prayoga, Jurnalis · Kamis 15 Oktober 2020 16:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 15 278 2294180 pulih-dari-covid-19-pasar-saham-china-cetak-rekor-tertinggi-eBRjtMJU8w.jpg Pasar Saham China Cetak Rekor. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA – Pulih dari pandemi virus corona, China menjadi negara yang cepat mengembalikan perekonomian negara dari krisis. Pemulihannya pun kini berdampak positif pada pasar saham China yang mencapai rekor tertinggi sebesar USD10 triliun.

Nilai total saham perusahaan yang terdaftar di Shanghai and Shenzen Stock Exchange menguat mencapai USD10,08 triliun pada Rabu 14 Oktober 2020. Ini menunjukkan ekonomi China mulai pulih setelah di awal tahun mengalami penurunan akibat lockdown atau karantina.

Baca Juga: Ini Rahasia China Berhasil Atasi Krisis Ekonomi saat Covid-19

Pencapaian itu didapatkan setelah pemerintah fokus menerbitkan stimulus dalam rangka meredam kejatuhan ekonomi. Sepanjang tahun ini, Shanghai and Shenzen Stock Exchange mengalami peningkatan sebersar 17%. Demikian dikutip dari Guardian, Kamis (15/10/2020). 

China menjadi salah satu dari sedikit ekonomi global utama awal tahun ini yang mengalami resesi teknis karena kontraksi ekonomi dua kuartal berturut-turut. Namun , pertumbuhan pulih dengan cepat dalam tiga bulan hingga akhir Juni setelah adanya pelonggaran lockdown.

Baca Juga: Ekonomi China Ancang-Ancang Tumbuh di saat Negara Lain Resesi

Sebagai negara pertama yang dilanda Covid-19, dan langsung menerapkan protokol kesehatan yang ketat di Negeri Tirai Bambu tersebut, PDB Tiongkok terkontraksi hingga minus 6,8% pada kuartal pertama. Ini merupakan krisis ekonomi paling dalam yang terjadi di China setelah tahun 1992.

Kemudian, ekonomi China tumbuh sebesar 3,2% di kuartal kedua, dan diharapkan tumbuh lebih cepat di kuartal ketiga. Perdagangan China terhadap seluruh dunia pun mengalami tren positif, yang mana pada September impor naik 13,2% dan ekspor meningkat 9,9% dibandingkan tahun lalu.

Meski begitu, Ekonom dari Pantheon Macroeconomics Miguel Chanco menyebut situasi itu tak lantas membuat China di atas angin dalam hal pemulihan ekonomi. Sebab, tingkat konsumsi dan daya beli masyarakat masih belum menunjukan tren yang baik.

Hal itu berdasarkan data dari Kementerian Budaya dan Pariwisata China, di mana 637 juta turis domestik yang melakukan perjalanan selama liburan delapan hari, hanya menghasilkan pendapatan 467 miliar yuan untuk sektor pariwisata.

"Liburan Minggu Emas China jatuh datar tahun ini dari sudut pandang ekonomi, menggarisbawahi tekanan yang berkepanjangan pada rumah tangga dan menuangkan air dingin pada pemulihan ekonomi yang seharusnya berbentuk V," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini