Menyusun Alokasi Investasi di Masa Pandemi

Senin 28 September 2020 14:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 28 278 2284922 menyusun-alokasi-investasi-di-masa-pandemi-OesivYEcri.jpg IHSG (Foto: Shutterstock)


JAKARTA  – Pada tahun 2013, Warren Buffett (salah satu investor terkaya di dunia) membuat surat wasiat yang berisi instruksi bahwa kekayaan yang ditinggalkan untuk istrinya diinvestasikan sebanyak 90 persen pada reksa dana indeks saham berbiaya rendah dan 10 persen diinvestasikan pada obligasi pemerintah.

Mengingat usia Warren Buffett dan istrinya yang ketika tahun tersebut berusia 83 tahun, tentu alokasi ini mengejutkan kalangan perencana keuangan karena besarnya alokasi pada saham yang cenderung lebih fluktuatif dengan risiko investasi yang lebih tinggi.Namun, dengan catatan,Warren Buffett adalah salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan bersih yang diperkirakan mencapai USD80,5 miliar (atau sekitar Rp1.194 triliun dengan kurs Rp14.835 per USD) pada tahun 2020.

1% dari kekayaan tersebut saja sudah cukup untuk biaya hidup mereka selama lebih dari 100 tahun ke depan.Jadi, dengan alokasi 90% pada saham dan 10% pada obligasi pemerintah, walaupun terjadi gejolak pada pasar saham, seharusnya masih lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.Oleh sebab itu, metode aset alokasi yang dia lakukan mungkin tidak bisa ditiru begitu saja oleh semua orang.

Sebenarnya dalam melakukan investasi dan perencanaan keuangan, ada beberapa metode yang biasa digunakan. Hal ini bergantung pada kondisi setiap orang yang berbeda-beda, tujuan investasi masing-masing, dan profil risikonya.

Profil risiko pun bisa berubah seiring waktu. Krisis ekonomi dapat menentukan perubahan toleransi atas risiko. Ketika ekonomi dan kondisi investasi sedang baik dan pasar saham bullish, sebagian besar orang akan merasa agresif dan cenderung mengisi pilihan tingkat risiko yang ada di lembar kuesioner dengan kecenderungan yang tinggi terhadap toleransi risiko.

IHSG Terperosok ke Zona Merah

Sebaliknya, di saat iklim investasi melemah, si agresif bisa berubah menjadi tidak berani mengambil risiko dan bersikap berbeda atas apa yang dia pilih sebelumnya saat menentukan profil risiko dirinya. Berdasarkan kinerja historis, terbukti ketika kondisi ekonomi sedang mengalami perlambatan dan dunia bisnis kurang begitu baik, kinerja produk berbasis obligasi menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan saham.

Dalam perjalanan investasi jangka panjangnya, seorang investor mungkin akan mengalami siklus dimana kinerja saham lebih baik dan juga siklus dimana kinerja obligasi yang lebih baik.Untuk itu, investor bisa melakukan aset alokasi untuk mengurangi tingkat risiko. Tentu saja, aset alokasi ini adalah pilihan. Jika investor mantap dengan pilihan investasi dan sudah siap dengan risikonya, investor bisa tetap pada strategi yang sudah digunakannya.

Secara umum, profil risiko seorang investor dibagi menjadi tiga, yaitu, konservatif, moderat, dan agresif. Investor dengan kategori konservatif memiliki tingkat penerimaan risiko paling rendah (risk averse investor) alias investor yang tidak senang risiko. Investor ini lebih menyukai investasi yang imbal hasilnya terjamin, seperti deposito. Alasan utama investor konservatif dalam berinvestasi adalah keutamaan keamanan atas modal investasinya.

Berbeda dengan investor konservatif yang tidak menyukai risiko, investor moderat (risk neutral investor) tidak menolak dan masih bisa menerima risiko dalam batasan tertentu.Investor ini cenderung berani mengambil risiko yang lebih besar, namun tetap berhati-hati dalam memilih jenis instrumen investasi dengan biasanya membatasi jumlah investasi pada instrumen yang berisiko. Investor moderat juga menyadari risiko sebagai konsekuensi dalam mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi. Misalnya, mencari perolehan pendapatan berkala melalui bunga deposito dan bunga obligasi.

Investor agresif bisa dikatakan sebagai investor yang berani mengambil risiko yang lebih tinggi. Investor ini sering dijuluki risk seeker investor. Jenis pilihan profil risiko ini tentunya diperuntukan bagi Anda yang sudah dianggap mahir dan paham akan investasi. Investor agresif pada umumnya akan mengalokasikan dananya dalam instrumen saham dan kombinasi dengan obligasi dalam komposisi yang lebih sedikit.

Dalam situasi pandemi saat ini, investor perlu melihat kembali apa profil risiko dia yang sesungguhnya. Jika masih sama dengan profil risiko sebelumnya, maka dia hanya perlu menyesuaikan kembali dengan aset investasi yang saat ini dimiliki. Jika dia adalah seorang investor agresif, maka komposisi saham yang menurun bisa disesuaikan kembali. Sebab, umumnya investor agresif mengalokasikan antara 50-80% pada instrumensaham, dan selebihnya pada instrumenpendapatan tetap.Karena harga saham cenderung mengalami penurunan, maka investor bisa membeli kembali saham pada harga rendah saat ini, untuk menyeimbangkan portofolionya. Begitupun tipe moderat dan konservatif. Sesuaikan kembali alokasi portofolio Anda.

Saran bijak dari sejumlah perencana keuangan saat pandemi ini, alokasikan dana siaga atau dana kas yang ada di rekening Anda lebih banyak di saat situasi ekonomi tengah tidak stabil. Jika sebelumnya dana siaga misalnya hanya disediakan sebesar tiga bulan dari kebutuhan hidup bulanan, saat ini ada baiknya meningkatkan dana kas siaga sebesar 6-12 bulan kebutuhan hidup. Baru selebihnya dialokasikan untuk dana investasi. (TIM BEI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini