3 Hal yang Tak Boleh Dilakukan Dilakukan Investor Saham saat Resesi

Fadel Prayoga, Jurnalis · Minggu 27 September 2020 09:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 27 278 2284405 3-hal-yang-tak-boleh-dilakukan-dilakukan-investor-saham-saat-resesi-AYaeYEsXRj.jpg Investasi Saham di Pasar Modal Indonesia. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Indonesia segera masuk daftar negara yang mengalami resesi karena pandemi virus corona. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 pun diprediksi akan kembali minus seperti ekonomi di kuartal sebelumnya.

Para investor dan trader saham dibuat khawatir terhadap pertumbuhan ekonomi tersebut karena mempengaruhi perkembangan perdagangan saham.

Baca Juga: Dear Pemegang Saham, Lakukan Ini jika Indonesia Resesi

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, hal pertama saat resesi yang mesti dilakukan para investor adalah ridak berspekulasi dalam membeli saham. Sebab, di tengah situasi pasar yang tak menentu ini tentu akan banyak sentimen negatif yang memengaruhi harga saham.

"Jangan berspekulasi," kata Reza saat dihubungi Okezone, Minggu (27/9/2020).

Kedua, tak semua investor berani menambah investasinya di tengah gejolak ekonomi ini. Oleh sebab itu, bila tak mempunyai keteguhan hati untuk terus bermain di pasar saham, maka baiknya segera pindahkan uangnya ke dalam bentuk tabungan atau deposito.

Baca Juga: Ngotot Main Saham saat Resesi, Sebaiknya Hindari Jenis Emiten Ini

“Maka bersih-bersih portofolio akan dilakukan dan memindahkan ke instrumen investasi lainnya. Misal, dari saham ke obligasi, atau dari saham ke tabungan maupun deposito,” ujarnya.

Sementara itu, Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi menambahkan, hal berikut atau ketiga yang mesti dilakukan investor saat resesi adalah memindahkan portofolionya di emiten yang harga sahamnya terus menurun. Lalu, pelajari beberapa perusahaan yang dilihat memiliki prospek baik meski sedang Covid-19.

“Kurangin bobot portofolio saham-saham yang terkena imbas sangat besar dan perbanyak bobot portofolio saham-saham defensif dan memiliki dividen yield cukup menjanjikan,” katanya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini