Bergerak Tak Wajar, BEI Pantau Ketat Saham JSKY

Fadel Prayoga, Jurnalis · Selasa 15 September 2020 12:40 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 15 278 2277970 bergerak-tak-wajar-bei-pantau-ketat-saham-jsky-SqjwpDGycF.jpg BEI Pantau Pergerakan Saham JSKY. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memantau pergerakan harga saham PT Sky Energy Indonesia Tbk (JSKY). Pasalnya, telah terjadi peningkatan harga saham yang di luar kebiasaan (Unusual Market Activity/UMA).

Meski demikian, BEI menyampaikan bahwa pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundangundangan di bidang Pasar Modal. Demikian dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Selasa (15/9/2020).

Baca Juga: Turun 59%, Saham CBMF Jadi Sorotan BEI

Bursa pun telah meminta konfirmasi kepada Perusahaan Tercatat pada tanggal 1 September 2020. Nantinya jawaban atas volatilitas disampaikan melalui website Bursa pada 3 September 2020. Informasi terakhir mengenai Perusahaan Tercatat adalah informasi tanggal 10 September 2020 yang dipublikasikan melalui website Bursa terkait perubahan pemanggilan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.

Sebagai informasi, sebelumnya Bursa telah mengumumkan UMA pada tanggal 28 Februari 2020 atas perdagangan saham JSKY. Penghentian Sementara Perdagangan terhadap saham JSKY di Pasar Reguler dan Tunai pada tanggal 21 November 2019 dalam rangka Cooling Down.

UMA pada tanggal 20 November 2019 atas perdagangan saham JSKY.

Baca Juga: Turun 66%, BEI Cermati Saham Nusantara Almazia

Sehubungan dengan terjadinya Unusual Market Activity atas saham JSKY tersebut, Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini. Oleh karena itu para investor diharapkan memperhatikan jawaban Perusahaan Tercatat atas permintaan konfirmasi Bursa.

Mencermati kinerja Perusahaan Tercatat dan keterbukaan informasinya. Mengkaji kembali rencana corporate action Perusahaan Tercatat apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan RUPS;

Mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi

(fbn)

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini