Aksi Jual Saham-Saham Teknologi Buat Wall Street Rontok

Fakhri Rezy, Jurnalis · Rabu 09 September 2020 07:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 09 278 2274779 aksi-jual-saham-saham-teknologi-buat-wall-street-rontok-k9lFNegaJS.jpg Wall Street (Shutterstock)

NEW YORK - Wall Street ditutup anjlok pada perdagangan Selasa (8/9/2020) waktu setempat. Hal ini dikarenakan saham-saham teknologi terus memicu aksi jual.

Mengutip Washinton Post, Jakarta, Rabu (9/9/2020), Dow Jones turun 632,42 poin atau 2,3% menjadi ditutup pada 27.500,89. Indeks Standard & Poor's 500 turun 95,12 poin atau 2,8 persen menjadi menetap di 3.331,84. Sedangkan, Nasdaq jatuh 465,44 poin atau 4,1 persen, menjadi berakhir di 10.847,69.

Baca juga: Wall Street Bergerak Naik, Nasdaq Bergerak Flat

Setelah kenaikan yang menurut para analis tidak biasa pada September, pasar AS anjlok pada Kamis dan Jumat, terseret oleh raksasa teknologi menjelang libur panjang akhir pekan. Pasar ditutup pada Hari Buruh.

Dari pergerakan saham-sahamnya, Amazon anjlok 4,4%, Facebook merosot 4,1% dan Alphabet turun 3,6%. Perusahaan bioteknologi Moderna, yang sedang mengerjakan kandidat vaksin virus corona, kehilangan hampir 13,2%.

Baca juga: Wall Street Lesu Tertekan Saham Amazon hingga Apple

Investor juga sedang bertanya-tanya mengenai hubungan perdagangan AS-China. Apalagi, pembicaraan soal virus Corona dan kekhawatiran yang meningkat soal pemilihan di November.

"Masing-masing faktor ini dapat membahayakan narasi yang telah dimasukkan ke dalam harga saham, yang merupakan pemulihan ekonomi yang relatif cepat," ujar kata Michael Farr, presiden Farr, Miller & Washington.

Saham Tesla anjlok 21,1% mengejutkan indeks S&P 500. Investor di perusahaan mobil listrik kelas atas telah mengandalkan Tesla untuk bergabung dengan indeks benchmark - harga sahamnya telah naik sepanjang musim panas. Dan saham perusahaan telah meroket lebih dari 350 persen sejak awal tahun.

Investor yang optimis terus menggelontorkan uangnya ke perusahaan, mengirimkan kapitalisasi pasarnya di atas perusahaan raksasa seperti Home Depot dan Intel. Dan di tonggak musim panas lainnya, Tesla melampaui nilai pasar Toyota, merebut mahkota produsen mobil paling berharga di dunia, meski menjual kurang dari 400.000 kendaraan tahun lalu, dibandingkan dengan Toyota yang 10,74 juta.

Namun harapan investor pupus ketika perusahaan yang mengawasi S&P 500, mengumumkan pada Jumat malam bahwa mereka tidak akan menambahkan Tesla ke dalam indeks yang dilacak secara luas. Sebaliknya, situs e-niaga Etsy, pembuat teknologi Teradyne dan perusahaan farmasi Catalent, akan bergabung dengan S&P 500 efektif 21 September.

(rzy)

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini