Sempat Jadi Perusahaan Terbesar Dunia, Kini Exxon 'Ditendang' dari Dow Jones

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 26 Agustus 2020 12:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 26 278 2267638 sempat-jadi-perusahaan-terbesar-dunia-kini-exxon-ditendang-dari-dow-jones-2UYQZ7sUpF.jpg Bursa Saham Wall Street (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - ExxonMobil menjadi salah satu raksasa minyak dan gas dalam beberapa dekade. Perusahaan migas menjadi perusahaan yang paling menghasilkan banyak uang.

ExxonMobil juga dikenal kerap belanja modal dalam ukuran yang besar dan royal terhadap memberikan penghargaan kepada pemegang sahamnya. 

Bahkan, pada tahun 2013, Exxon dinobatkan sebagai perusahaan paling berharga di dunia. Nilai pasarnya mencapai USD446 miliar atau Rp6.530 triliun (mengacu kurs Rp14.600 per USD) pada pertengahan 2014. Kala itu harga minyak mentah diperdagangkan di atas USD100 atau Rp1,4 juta per barel.

Baca Juga: Sektor Pariwisata Redup, Desa di Bali Ini Bangkitkan Perekonomian dengan Bertani

Namun masa kejayaan itu semua tinggal kenangan. Kini serangkaian keputusan strategis menjadi bumerang, mulai dari mengambil keputusan dalam ketidakpastian hingga peristiwa yang membuat ExxonMobil goyah. Akibatnya, Exxon sekarang kehilangan uang untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Rekam jejak panjangnya dalam meningkatkan dividen diragukan. Exxon Mobil merupakan contoh bagi industri bahan bakar fosil di kala keprihatinan mendalam tentang krisis iklim. Nilai pasar perusahaan telah jatuh secara mengejutkan sebesar USD267 miliar atau sekitar Rp3.909 triliun dari era kejayaannya. Seperti pribahasa sudah jatuh tertimpa tangga, Exxon dikeluarkan dari Dow Jones Industrial Average, indeks eksklusif yang telah menjadi bagiannya selama 92 tahun. Tepatnya, mengingat perubahan keberuntungan dalam ekonomi modern dan pasar saham. 

Baca Juga: Manfaatkan Hobi Jalan-Jalan, Begini Cara Sukses Jadi Travel Blogger Berpenghasilan

Exxon digantikan oleh perusahaan teknologi Salesforce (CRM) dan Chevron (CVX), perusahaan yang lebih sukses akhir-akhir ini daripada Exxon, sekarang menjadi satu-satunya perusahaan minyak Dow.

"Ini sangat simbolis. Itu adalah pengakuan bahwa sektor energi tidak memiliki pengaruh yang hampir sama seperti dulu," kata Stewart Glickman, analis energi di CFRA Research, mengutip CNN, Rabu (26/8/2020).

Menurut Bespoke Investment Group, pada 2008, sektor energi berkontribusi cukup besar yakni 16% dari S&P 500, ketika harga minyak melonjak di atas USD140 atau di atas Rp2,05 juta per barel. Namun saat ini, industri energi hanya mencapai 2,5% dari S&P 500.

Pergeseran itu mencerminkan transformasi ekonomi Amerika yang lebih bergerak ke arah perusahaan teknologi. Bahkan, selama pandemi, perusahaan teknologi seperti Amazon (AMZN), Apple (AAPL), dan Zoom (ZM) berkembang pesat.

Tetapi perombakan di Dow bukan hanya tentang masalah industri energi secara luas. Ini tentang kekacauan di Exxon secara khusus.

Ketika saham AS mencapai titik terendah pada 23 Maret, Exxon diperdagangkan pada level terlemah dalam hampir 18 tahun. Meskipun Exxon telah pulih bersama dengan pasar yang lebih luas, itu tetap turun lebih dari 40% tahun ini, sebaliknya, Chevron hanya turun 28%.

Itu mencerminkan kepercayaan yang lebih besar pada kemampuan Chevron untuk menghasilkan uang dalam periode yang bergejolak ini dan juga keamanan dividen yang didambakan perusahaan itu.

"Chevron lebih konservatif dengan neracanya. Ini membuatnya sangat bersih," kata Jason Gammel, analis energi di Jefferies.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini