Vaksin Corona Made in China Bikin Cuan Saham Farmasi, Ini 8 Faktanya

Safira Fitri, Jurnalis · Minggu 26 Juli 2020 11:16 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 25 278 2252023 vaksin-corona-made-in-china-bikin-cuan-saham-farmasi-ini-8-faktanya-rRpeoAb2l4.jpg IHSG (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Setelah kabar atas pembuatan vaksin virus corona yang dibuat oleh Sinovac Biotech, perusahaan asal China, hal ini menjadi sebuah angin segar bagi sektor bidang farmasi.

Indonesia akan menjadi salah satu lokasi untuk melakukan uji coba tahap III vaksin virus corona tersebut. Pasalnya, Sinovac Biotech telah melakukan kerja sama dengan Biofarma, yang mana merupakan holding BUMN Farmasi dan juga terdapat PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF).

Baca Juga: Ditopang Saham Farmasi, IHSG Naik Nyaris 1% ke 5.154 Jeda Siang Ini 

Hal positif tersebut tentunya menjadi sebuah dongkrak bagi saham-saham BUMN Farmasi. Berikut ini fakta-fakta mengenai vaksin virus corona yang membuat saham farmasi meningkat, hal ini berdasarkan pantauan Okezone, Jakarta, Minggu (26/7/2020).

1. Saham Kimia Farma dan Indofarma Meroket 24%

Pada penutupan perdagangan sesi I, Rabu 22 Juli 2020, saham PT PT Kimia Farma Tbk (KAEF) naik Rp425 atau 24,8% ke Rp2.140 serta PT Indofarma Tbk (INAF) naik Rp375 atau 24,9% ke Rp1.880.

2. Kenaikan Saham Farmasi

Head of Research MNC Edwin Sebayang mengungkapkan bahwa kenaikan saham farmasi lebih disebabkan karena adanya momentum,

“Hanya karena vaksin dan Indonesia kan sebagai pangsa pasar yang besar sehingga dengan adanya uji coba tersebut dan memang market kita besar sehingga nanti bisa mendorong kenaikan kinerja dari emiten tersebut,” katanya kepada Okezone.

Baca Juga: Saham Farmasi Bawa Hoki karena Naik Gila-gilaan, Saatnya Buy? 

3. Pergerakan Saham Kimia Farma

Pada perdagangan Jumat 24 Juli, harga saham Kimia Farma ditutup naik Rp70 atau 2,62% ke level Rp2.740 per saham. Harga saham Kimia Farma menyentuh level tertinggi Rp3.330 per saham.

4. Pergerakan Saham Indofarma

Pada perdagangan Jumat 24 Juli, harga saham Indofarma ditutup naik Rp260 atau 11,06% ke level Rp2.610 per saham. Harga saham Indofarma menyentuh level tertinggi Rp2.930 per saham.


5. Beli Saham Farmasi?

 

Head of Research MNC Edwin Sebayang mengatakan, bagi investor yang hendak membeli saham farmasi disarankan short term atau harian. Karena saham-saham farmasi mengalami kenaikan cukup tinggi dan bisa menjadi keuntungan.

“Trading bisa melakukan buying tapi short term atau day trade karena kan naiknya gila-gilaan. 20% 24% auto reject,” ujarnya saat dihubungi Okezone.

6. Vaksin Virus Corona Sinovac

Vaksin buatan Sinovac merupakan salah satu kandidat terdepan dalam upaya pengobatan virus corona. Vaksin itu telah memasuki uji coba fase III pada awal Juli dan menjadi salah satu vaksin yang akan memasuki uji coba tahap akhir.

 

7. Uji Coba Vaksin

Vaksin telah diterima oleh PT Bio Farma sebanyak 2.400. Nantinya, vaksin tersebut akan diuji cobakan kepada 1.620 subjek rentang usia 18-59 tahun dan dengan kondisi tubuh tertentu. Sisa dari vaksin tersebut tentunya akan digunakan kepada uji lab di lab Bio Farma dan Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN).

8. Vaksin Diproduksi Massal 2021

Juru Bicara Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Wiku Adisasmito menyebut pemerintah menargetkan vaksin Covid-19 diproduksi massal tahun 2021.

"Kita akan mengembangkan vaksin. Jadi vaksin itu diharapkan dapat diproduksi segera, sebagian masih uji klinis. Dan harapannya di awal tahun depan sebagian sudah bisa diproduksi," ujar dia.

Laporan tersebut membuat beberapa emiten di sektor farmasi merespons positif akan hal itu. Terlihat sektor-sektor farmasi pada perdagangan kian menghijau.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini