Nilai Mata Uang Inggris Merosot akibat Peningkatan Kasus Covid-19

Selasa 21 April 2020 08:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 21 278 2202344 nilai-mata-uang-inggris-merosot-akibat-peningkatan-kasus-covid-19-ssMwRixCbt.jpg Mata Uang (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Pandemi corona telah membekukan aktivitas ekonomi di Inggris. Sama seperti di negara-negara maju lainnya, pembatasan aktivitas dapat memicu resesi ekonomi.

Nilai mata uang Inggris pound sterling menyusut, sementara jumlah kematian total akibat virus corona meningkat. Sejumlah pejabat negara itu mengatakan, terlalu dini untuk membicarakan pelonggaran lockdown.

Pound sterling anjlok 0,3% terhadap dolar dan euro, sehingga masing-masing diperdagangkan pada USD1,24 dan 1,14 euro. Inggris melaporkan tambahan 596 kematian, sehingga jumlah totalnya menembus angka lebih dari 16.000, dilansir dari VOA, Selasa (21/4/2020).

Baca juga: Ekonomi Inggris Bisa Merosot 30% akibat Covid-19

Menteri Kantor Kabinet Michael Gove mengatakan, Inggris tidak sedang mempertimbangkan pencabutan kebijakan lockdown yang diterapkan sejak empat pekan lalu mengingat peningkatan jumlah kematian yang mengkhawatirkan tersebut.

Wabah virus corona telah membekukan aktivitas ekonomi di Inggris, seperti halnya di negara-negara maju lainnya, sehingga mendorong para ekonom untuk memperkirakan kemungkinan resesi yang parah. Prediksi ini memicu turunnya nilai pound sterling.

Baca juga: Dari Mana Sumber Kekayaan Kerajaan Inggris? Simak 5 Fakta Ini

Konsorsium Pengecer Inggris memperkirakan, orang-orang Inggris yang pergi berbelanja menurun 83% sejak pemerintah menutup toko-toko eceran tidak esensial bulan lalu untuk memperlambat penyebaran virus corona. Situs properti Rightmove menyatakan, sulit untuk menyusun data harga yang akurat karena jumlah rumah yang diperdagangkan menurun drastis.

Pemerintah Inggris, dengan dukungan Bank of England, telah meluncurkan beberapa paket stimulus untuk mendukung perekonomian. Salah satu langkah terbarunya adalah, Menteri Keuangan Rishi Sunak menggelar skema baru untuk melindungi perusahaan-perusahaan yang berkembang cepat dan inovatif dari keterpurukan ekonomi akibat wabah virus corona.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini