Dolar Menguat Ditopang Optimisme Data Ekonomi AS

Irene, Jurnalis · Sabtu 08 Februari 2020 07:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 08 278 2165280 dolar-menguat-ditopang-optimisme-data-ekonomi-as-sZt3aYXMj9.jpg Dolar AS Menguat (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

NEW YORK - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap sekeranjang mata uang utama pada perdagangan Jumat waktu setempat, didorong data pekerjaan AS. Di mana terjadi peningkatan pada sektor non-pertanian.

Mata uang AS juga mencapai level tertinggi terhadap sterling dan dolar Kanada, franc Swiss dan euro. Namun, dolar melemah terhadap yen di tengah kekhawatiran tentang wabah virus Corona di China.

Baca Juga: Dolar AS Hajar Yen Jepang hingga Franc Swiss

Data menunjukkan gaji non-pertanian AS meningkat sebesar 225.000 pekerja bulan lalu atau meningkat dibandingkan perkiraan para ekonom sebesar 160.000 pada Januari 2020. Di mana pekerjaan pada sektor konstruksi meningkat paling banyak.

"Cetakan positif hari ini mengonfirmasi bahwa pasar kerja AS pendorong ekonomi AS yang sedang berkembang," kata FX Sales Trader Saxo Markets Olivier Konzeoue, dilansir dari Reuters, Sabtu (8/2/2020).

Indeks dolar naik 0,2% menjadi 98,687. Dolar juga naik 0,3% terhadap franc Swiss di 0,9772 franc, naik 0,1% terhadap dolar Kanada menjadi USD1,3301 dan naik 0,3% terhadap sterling. Sementara itu, greenback turun 0,2% terhadap yen menjadi 109,76 yen.

Baca Juga: Dolar AS Menguat di Tengah Kabar Pengembangan Vaksin Virus Korona

Sementara itu, Bank Sentral AS, The Fed dalam kongresnya membahas soal dampak virus corona. Di mana dampak penyebaran virus sebagai salah satu risiko terhadap prospek ekonomi AS.

"Ini adalah petunjuk utama pertama bahwa The Fed khawatir bahwa virus itu mungkin dapat menggagalkan pertumbuhan global," kata Analis Pasar Senior OANDA Edward Moya.

Jumlah korban tewas akibat virus ini sudah mencapai 637 orang dengan total 31.211 terinfeksi virus tersebut. Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan Vrus ini telah menyebar secara global, dengan 320 kasus di 27 negara dan wilayah di luar China daratan.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini