Virus Korona Masih Jadi Teror, Wall Street Melemah Meski Data Tenaga Kerja Positif

Vania Halim, Jurnalis · Sabtu 08 Februari 2020 07:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 08 278 2165278 virus-korona-masih-jadi-teror-wall-street-melemah-meski-data-tenaga-kerja-positif-Ae1lVw2Fvf.jpg Wall Street Melemah. (Foto: Okezone.com/Reuters)

NEW YORK - Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street jatuh pada penutupan perdagangan Jumat setelah rally selama empat hari karena investor mencerna laporan pekerjaan bulanan AS. Selain itu, investor juga tengah bersiap untuk perkembangan virus corona berikutnya.

Dow Jones Industrial Average turun 277,26 poin atau 0,94% menjadi 29.102,51. Kemudian S&P 500 kehilangan 18,08 poin atau 0,54% menjadi 3.327,7 dan Nasdaq Composite turun 51,64 poin atau 0,54% menjadi 9.520,51.

Baca Juga: Wall Street Ditutup Cetak Rekor Baru di Tengah Kekhawatiran Virus Korona Mereda

Pasar ekuitas global dan imbal hasil utang pemerintah AS merosot karena kekhawatiran tentang dampak virus corona terhadap pertumbuhan dunia. Hal ini membayangi laporan pekerjaan AS yang kuat mengindikasikan bagaimana kondisi ekonomi ke depan.

Saham-saham di Wall Street pun bergerak turun dari rekor tertinggi. Padahal sentimen positif pasar saham diperoleh dari meningkatnya data tenaga kerja AS yang lebih baik.

Departemen Tenaga Kerja mencatat data pekerja dari sektor non-pertanian meningkat 225.000 pekerjaan pada Januari. Terdiri dari meningkatnya lapangan kerja pada bidang konstruksi atau jumlah pekerja paling banyak.

Baca Juga: China Hadapi Virus Korona, Wall Street Menguat

Namun demikian, laporan pekerja AS tersebut tidak mampu menggerakkan pasar di mana sebagian saham bergerak melemah. Perhatian investor masih tertuju pada dampak virus corona yang telah menyebabkan 31.211 terinfeksi virus dan menewaskan 637 orang.

"Investor harus memperhatikan efek dari coronavirus pada rantai pasokan global dan dengan demikian, pada ekonomi global dan keuntungan perusahaan," kata Kepala Strategi Global Nikko Asset Management John Vail, dilansir dari Reuters, Sabtu (8/2/2020).

Virus corona akan mengganggu bagi investor jangka panjang, namun jumlah dan durasi efeknya masih belum diketahui. Ada kemungkinan kesepakatan perdagangan Fase 1 AS-China akan sangat terhambat dan hubungan bilateral memburuk lagi.

Di sisi lain, indeks saham MSCI di seluruh dunia merosot 0,60%, bergerak menjauh dari level tertinggi minggu ini. Meskipun Jumat mengalami penurunan, indeks mencatat kenaikan mingguan terbaik sejak Juni

Saham pasar berkembang kehilangan 1,11% dan indeks FTSEurofirst 300 pan-Eropa turun 0,25%. Indeks blue-chip mencatatkan minggu terbaiknya sejak akhir 2016.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini