BEI: Ada 41 "Saham Gorengan" Sepanjang 2019

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 10 Januari 2020 19:51 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 10 278 2151580 bei-ada-41-saham-gorengan-sepanjang-2019-7nL1e5a0rG.jpg Ilustrasi: Pergerakan IHSG (Foto Shutterstock)

JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terdapat 41 saham yang terindikasi menjadi ajang goreng-menggoreng saham sepanjang 2019. Nilai transaksi harian dari saham-saham tersebut pun terbilang cukup besar.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widito Widodo menyatakan, 41 saham gorengan itu memiliki nilai transaksi sebesar 8,3% dari total nilai rata-rata transaksi harian (RNTH) yang sebesar Rp9,1 triliun di tahun lalu. Dengan demikian, saham-saham gorengan memiliki nilai RNTH sebesar Rp755,3 miliar.

Baca Juga: Naik Terlalu Ngebut, Saham Produsen Keju Ini Kena Auto Reject

"Ada 41 saham yang kami identifikasi (gorengan). Volumenya memang besar karena recehan nilainya, tapi value kreditnya kecil," kata dia Gedung BEI, Jakarta, Jumat (10/1/2020).

Menurutnya, 41 saham tersebut tidak memiliki kesesuaian antara harga terhadap fundamental. Terlihat dari kewajaran kenaikan harga saham tersebut, biasanya terjadi peningkatan harga yang tidak wajar.

Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen  

Kendati demikian, Laksono enggan mengungkapkan emiten yang diindikasikan saham-saham gorengan tersebut. "Karena itu kan masih dugaan, jadi kami tidak bisa ungkapkan berdasarkan mengedepankan asas praduga tak bersalah", katanya.

Persoalan saham gorengan ini kembali mencuat karena adanya kasus gagal bayar yang terjadi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Perusahaan pelat merah itu melakukan investasi dana hasil penjualan produk JS Saving Plan pada saham gorengan dan pada reksa dana yang dikelola oleh manajer investasi dengan kinerja buruk.

Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen  

Terkait hal tersebut, Laksono mengakui isu saham gorengan yang diinvestasikan Jiwasraya memang memberikan sentimen negatif pada pasar. Namun pengaruhnya tidak besar pada minta investor asing menanamkan dana di Tanah Air.

Menurutnya, saham gorengan tersebut sangat berbeda dari fokus investor asing yang lebih kepada saham-saham besar di IDX 80, LQ45, dam bahkan IDX30. Investor asing juga lebih mengkhawatirkan dengan kondisi ekonomi global dan domestik, ketimbang kasus satu korporasi.

"Mereka (investor asing) lebih terdampak terhadap kejadian global saat ini, dunia lagi risk off karena ada ketegangan di belahan semenanjung Arab antara Iran dan Amerika, juga sensitif pada berita ekonomi Indonesia dan kadang berita politik," jelasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini