Kontroversi Kesehatan CEO Samsung, Ekonomi Korea Akan Alami Spiral Kematian?

Fakhri Rezy, Jurnalis · Kamis 09 Januari 2020 08:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 09 278 2150916 jika-ceo-samsung-wafat-ekonomi-korea-akan-alami-spiral-kematian-AqdjPTQHB2.jpg samsung (Reuters)

JAKARTA - Chairman Samsung Electronics Lee Kun-hee dikabarkan mengalami sakit yang berkepanjangan. Namun bagaimana bila terjadi hal yang terburuk?

Seorang Blogger bernama John Yoo menulis mengenai proyeksi keadaan tersebut dan diunggah pada akun Twitter-nya. Tulisan itu pun menjadi polemik di jagat media sosial.

 Baca juga: Samsung Display Siap Investasi Rp153,3 Triliun, untuk Apa Saja?

Dia mengatakan bahwa bila CEO Samsung wafat, Korea Selatan harus berpura-pura dia tetap hidup. "Karena jika dia wafat, negara itu mungkin akan mengalami spiral kematian ekonomi," ujarnya dalam akun Twitter-nya seperti dikutip, Kamis (9/1/2020).

 John Yoo soal Bos Samsung (Twitter)

Dirinya mengatakan, Samsung biasanya menyumbang 20% ​​dari ekspor seluruh negara Korea Selatan. Sebagai satu kelompok usaha, Samsung merupakan konglomerasi dengan pangsa pasar yang besar atau mengendalikan dalam bidang teknologi, konstruksi, keuangan & asuransi, perhotelan, keamanan, perjalanan, makanan, ritel. Bahkan jaringan usahanya mampu memberikan kontribusi 12% kepada PDB.

 Baca juga: Samsung Minta Maaf Karyawannya Idap Penyakit Leukemia hingga Tumor Otak

"Itu hanya kepentingan bisnis yang kita ketahui secara publik. Ya, hampir USD1 di setiap USD5 di negara yang didatangkan dari luar negeri, adalah oleh Samsung," ujarnya.

Dirinya menjelaskan, jika seseorang tinggal di Korea, maka akan tahu bahwa perusahaan yang lebih kecil didirikan secara khusus oleh pengusaha untuk memasok Samsung. Mereka adalah pemilik bisnis "independen" yang memiliki risiko atau biaya sangat tinggi atau margin sangat tipis.

 Baca juga: Bos Samsung Jadi Tersangka Pengemplang Pajak Rp80 Miliar

"Sehingga konglomerat seperti Samsung tidak dapat dianggap melakukan sendiri," ujarnya.

Sementara itu memasuki dunia perpajakan di Korsel, lanjutnya, berlaku pajak warisan 50% untuk aset di atas USD2,5 juta. "Ketika Lee Gunhee meninggal, keluarganya akan berutang USD7 miliar kepada pemerintah," ujarnya.

Dirinya menambahkan, keluarganya harus menjual saham pribadi dari aset yang dikendalikan Samsung. Tentunya akan melemahkan struktur investasi yang kuat dan kompleks yang dibangun.

Seperti diketahui, Lee Gunhee menderita serangan jantung pada tahun 2014 dan dirawat di rumah sakit. Tidak ada yang memiliki kepastian tersebut tetapi anggota keluarga dekat melaporkan melihatnya.

Ada beberapa yang mengklaim dirinya sudah wafat namun ditangkap. Ketika beredar kematiannya dilaporkan pada tahun 2014, seluruh negara membalik ceritanya dan menghapus karena situs berita mengatakan bahwa pelapor menghilang.

"Sudah lima tahun dan tidak ada yang bisa memberi tahu kami kondisinya dengan pasti. Tidak ada yang tampak seperti dia. Dia praktis mati untuk umum," ujarnya.

John Yoo sendiri menuliskan pada thread tersebut bahwa dirinya telah mempersiapkan jika terjadi seperti si pelapor sebelumnya. Apalagi jika sampai dirinya terbunuh.

"Jika saya berhenti memposting Tweet di beberapa titik sebelum kematiannya terungkap, terutama jika seseorang telah membunuh diri saya, ketahuilah bahwa lengan panjang keluarga Lees yang datang untuk membungkam saya," ujarnya. (rhs)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini