Dolar AS Kian Melemah, Pertanda Apa?

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Jum'at 06 Desember 2019 08:25 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 06 278 2138594 dolar-as-kian-melemah-pertanda-apa-Q2G9PdgTlW.jpg Kurs Dolar AS (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) melemah untuk sesi kelima berturut-turut pada akhir perdagangan Kamis, tertekan oleh data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan dan kinerja yang kuat minggu ini oleh euro dan pound Inggris.

Baca Juga: Dolar AS Tertekan Perang Dagang

Federal Reserve pada pertemuan kebijakan moneter terakhirnya, mengatakan pihaknya ditahan setelah memangkas suku bunga tiga kali tahun ini. Tetapi beberapa analis menyarankan Fed dapat mempertimbangkan kembali sikap itu jika data ekonomi AS terus memburuk.

"Anda melihat kekhawatiran bahwa ekonomi AS kembali melambat hanya karena beberapa angka buruk dari kedua ISM (Institute for Supply Management)," kata analis senior di FXStreet Joe Trevisani seperti dilansir Reuters, Jakarta, Kamis (6/12/2019).

Baca Juga: Ekonomi Melambat Bikin Dolar AS Keok

Dalam akhir pedagangan, indeks dolar turun 0,2% pada 97,43654.

Sementara itu, sebagian besar mata uang diperdagangkan dalam kisaran ketat setelah berita utama yang saling bertentangan mengenai apakah perjanjian perdagangan AS-China dapat dicapai sebelum 15 Desember, ketika tarif tambahan AS mulai masuk untuk barang-barang Cina.

Fokusnya juga pada seberapa besar kerusakan yang disebabkan perang dagang. Sementara itu, data menunjukkan pesanan industri Jerman turun secara tak terduga pada Oktober.

 Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Menguat 14 Poin

Di sisi lain, laporan AS seperti klaim pengangguran mingguan dan defisit perdagangan sebagian besar lebih baik dari yang diharapkan, tetapi mereka adalah data tingkat kedua dan tidak banyak menggerakkan dolar.

Defisit perdagangan turun ke level terendah dalam hampir 1,5 tahun pada Oktober menjadi USD47,2 miliar, terkecil sejak Mei 2018. Klaim pengangguran awal turun menjadi 203.000 untuk pekan yang berakhir 30 November, terendah sejak pertengahan April.

Data itu mengikuti angka suram pada hari Rabu tentang kegiatan penggajian swasta dan layanan, dan indeks aktivitas manufaktur AS dan angka pengeluaran konstruksi yang buruk pada hari Senin.

UBS, dalam sebuah catatan penelitian mengatakan dolar bisa berada di bawah tekanan tahun depan, karena mengharapkan Amerika Serikat untuk berkontribusi lebih sedikit terhadap pertumbuhan permintaan global.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini