Boeing Rugi Rp41 Triliun di Kuartal II-2019 Imbas 737 Max Disetop

Kamis 25 Juli 2019 08:50 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 25 278 2083304 boeing-rugi-rp41-triliun-di-kuartal-ii-2019-imbas-737-max-disetop-5QcBCnmqAv.jpg Boeing (Reuters)

NEW YORK –Boeing Co. melaporkan kerugian USD2,94 miliar (Rp41 triliun) pada kuartal II/2019 saat produsen pesawat terbesar di dunia itu menghadapi penghentian operasional 737 MAX.

Akibat laporan kerugian itu, saham Boeing merosot di awal perdagangan. Perusahaan tersebut telah memangkas produksi pesawat lorong tunggal itu dan mengeluarkan biaya hampir USD5 miliar pada kuartal itu akibat penghentian operasional pesawat yang mengalami kecelakaan di Etiopia dan Indonesia.

 Baca juga: Boeing 737 MAX Tak Akan Angkut Penumpang hingga 2020

Mengutip Koran Sindo, Jakarta, Kamis (25/7/2019), biaya yang dikeluarkan Boeing itu termasuk untuk kom pensasi pada berbagai maskapai atas penundaan pengiriman pesanan pesawat MAX. Perusahaan juga akan mengeluarkan outlook baru untuk 2009 dalam waktu dekat. Boeing menjelaskan, penerbangan pertama jet baru 777X ditunda hingga awal 2020 karena masalah dengan mesin General Electric Co.

 Boeing 737 Max 8

Sebelumnya, tes penerbangan pertama 777X direncanakan dilakukan pada akhir Juni. Kerugian bersih Boeing pada kuartal yang berakhir hingga 30 Juni adalah USD2,94 miliar dibandingkan dengan laba USD2,20 miliar setahun sebelumnya.

 Baca juga: FAA Temukan Masalah Baru pada Boeing 737 MAX

“Penjualan juga merosot 35% menjadi USD15,75 miliar dan juga di bawah proyeksi rata-rata USD18,55 miliar,” ungkap data IBES dari Refinitiv. Pada awal Juli, sistem autopilot Boeing 737 Max dinyatakan bermasalah dan diminta di per baiki.

Saran itu diungkapkan Badan Keselamatan Pe ner - bangan Uni Eropa (EASA) sebagai salah satu syarat jika Boeing ingin kembali meng - ope ra sikan 737 Max. EASA mengirimkan lima persyaratan utama jika Boeing ingin menerbangkan kembali 737 Max. Persyaratan itu di kirimkan kepada Badan Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat (AS) dan Boeing.

 Baca juga: Maskapai Dunia Antre Pesan Pesawat Listrik

FAA sendiri belum memublikasikan hasil diskusi dan mengenai tuntutan perubahan yang diminta EASA kepada Boeing. Ada indikasi permintaan EASA sangat dramatis karena akan memengaruhi biaya dan waktu agar Max kembali mengudara.

Boeing memang harus bekerja keras agar Boeing 737 Max bisa kembali diterima pasar. Padahal sebelumnya itu me rupakan satu pesawat pa - ling laris yang dimiliki Boeing. Tidak lagi beroperasinya pesawat itu menyusul dua kali ke celakaan pesawat dalam lima bulan berturut-turut yang menewaskan 346 orang.

Akibat insiden tersebut, banyak maskapai di dunia tidak mau mengoperasikan pesawat jenis itu. Seorang sumber yang akrab dengan FAA menyatakan, isu yang diungkapkan EASA sebenarnya konsisten dengan pertanyaan FAA. FAA sendiri menolak mengonfirmasi hal spesifik yang dipertanyakan EASA.

“FAA terus bekerja sama lebih erat dengan otoritas penerbangan sipil untuk mengkaji dokumentasi sertifikasi 737 Max. Proses ini melibatkan komunikasi dengan semua pihak,” kata keterangan resmi FAA. Boeing sendiri pasrah dan akan mengikuti semua prasyarat yang disampaikan EASA.

“Kita juga siap memberikan informasi sebagaimana kita bekerja untuk mengembalikan pelayanan untuk Max,” ungkap keterangan Boeing.

Selain sistem autopilot, EASA juga menyebutkan prasyarat lain, seperti kesulitan pilot untuk mengendalikan roda secara manual, sensor sudut Max yang tidak bisa diandalkan, prosedur latihan tidak cukup, dan peranti lunak yang bermasalah. Hal menjadi permasalahan utama adalah kegagalan sistem autopilot saat situasi darurat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini