Investor Tahan Diri, Dolar AS Melemah

Selasa 23 April 2019 08:12 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 23 278 2046815 investor-tahan-diri-dolar-as-melemah-JV6dhwT3iQ.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

NEW YORK - Kurs dolar AS sedikit melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), dengan volume transaksi tipis karena para pedagang masih menahan diri pascalibur Paskah.

Pasar keuangan di Australia dan banyak negara besar di Eropa ditutup karena libur Paskah. Pasar mata uang berlanjut dalam perdagangan yang relatif ringan.

S​​​​ementara itu, lonjakan harga minyak di tengah berita bahwa Washington akan mengakhiri keringanan sanksi-sanksi bagi importir utama minyak Iran, telah mendorong dolar Kanada dan rubel Rusia.

 Baca Juga: Indeks Dolar AS Melemah Tertekan Poundsterling

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun tipis 0,08% menjadi 97,2989 pada akhir perdagangan. Demikian seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi 1,1258 dolar AS dari 1,1245 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,2980 dolar AS dari 1,2994 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi 0,7131 dolar AS dari 0,7148 dolar AS.

Dolar AS dibeli 111,93 yen Jepang, sama dengan 111,93 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 1,0160 franc Swiss dari 1,0143 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3344 dolar Kanada dari 1,3386 dolar Kanada.

 Baca Juga: Dolar AS Menguat Dipicu Data Penjualan Ritel

Dolar Kanada mendapat dorongan dari reli harga minyak pada Senin (22/4/2019). Kanada adalah pengekspor minyak mentah yang signifikan.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 1,70 dolar AS menjadi menetap pada 65,70 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik 2,07 dolar AS menjadi ditutup pada 74,04 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Demikian laporan yang dikutip dari Xinhua.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini