Danai Capex USD165 Juta, Vale Indonesia Tak Bagikan Dividen

Kamis 04 April 2019 12:56 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 04 278 2038945 danai-capex-usd165-juta-vale-indonesia-tak-bagikan-dividen-ZEx3Xby9cd.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – Mempertimbangkan besarnya kebutuhan dana belanja modal tahun ini guna menggenjot kinerja keuangan yang lebih baik ke depannya, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memutuskan tidak membagikan dividen untuk laba kinerja keuangan 2018 sekitar USD60 juta. “Pada 2019 akan ada kebutuhan capital yang cukup besar dibandingkan dengan 2018,” kata Direktur Vale Indonesia, Bernardus Irmanto dilansir dari Harian Neraca, Kamis (4/4/2019).

Dirinya menjelaskan, perseroan sudah menyampaikan kepada pemegang saham untuk tidak membagikan dividen. Pertimbangan utama yakni kondisi kas perseroan sehingga keuntungan dicadangkan. Disebutkannya, dua proyek pengembangan besar yang dibidik perseroan yakni pengembangan smelter feronikel di Bahadopi, Sulawesi Tengah (Sulteng) dan smelter nikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara (Sultra). Pihaknya menyebut proyek tersebut tengah dalam proses negosiasi final.

Baca Juga: Vale Indonesia Bukukan Ebitda USD235 Juta

Bernardus mengatakan, perseroan menganggarkan belanja modal senilai USD165 juta pada 2019. Rencana itu naik dua kali lipat dari USD83 juta pada 2018. Sebagai sumber pendanaan, sambungnya, perseroan akan menggunakan kas internal. Berdasarkan laporan keuangan 2018, emiten pertambangan logam itu membukukan pendapatan sebesar USD776,9 juta pada 2018 atau tumbuh 23,45% secara year-on-year (yoy). Dari situ, perseroan membukukan laba bersih USD60,51 juta, setelah pada 2017 mencatatkan rugi bersih USD15,27 juta.

Dimana salah satu faktor pengerek kinerja perseroan adalah harga jual feronikel pada 2018 yang lebih tinggi 27% dibandingkan tahun sebelumnya. Kemudian soal rencana divestasi perseroan yang mengikuti jejak Freeport Indonesia, Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Nico Kanter mengatakan, penawaran nilai divestasi sudah disampaikan kepada pemerintah dan tinggal menunggu keputusan pemerintah.”Jika memang ada holding dari pemerintah yang ingin masuk, seperti PT Inalum, kami menyambut baik. Apalagi holding ini kan sepenuhnya milik pemerintah pasti akan lebih baik ke depannya,” ujar Nico.

grafik

Menurutnya, jika bisa diselesaikan semuanya lebih cepat dari masa batas waktu yakni Oktober 2019 maka akan lebih baik dan sesuai aturan. Sebagai informasi, emiten perusahaan tambang asal Brazil ini menyatakan bersedia menawarkan divestasi saham kepada Pemerintah Indonesia. Untuk itu, Vale Indonesia sudah menyampaikan surat kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait hal tersebut. Dimana INCO berencana divestasi saham sebesar 20%.

Selanjutnya, berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Vale Indonesia Tbk juga menyetujui perombakan jajaran direksi. Dimana manajemen Vale Indonesia melaporkan bahwa Lovro Paulic telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai anggota direksi. Pengunduran diri tersebut efektif berlaku mulai 1 Januari 2019. Nama-nama baru dalam jajaran direksi adalah Dani Widjaja, Agus Superiadi, dan Vinicus Mendes Ferreira. Selain itu, pemegang saham juga menyetujui pengunduran diri Robert Allan Morris dari jabatannya sebagai komisaris.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini