Terdepresiasi 6%, Ini Langkah Sri Mulyani Cs Stabilkan Rupiah

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 31 Juli 2018 20:59 WIB
https: img.okezone.com content 2018 07 31 278 1930020 terdepresiasi-6-ini-langkah-sri-mulyani-cs-stabilkan-rupiah-7klfBzho51.jpeg Komite Stabilitas Sistem Keuangan (Foto: Yohana/Okezone)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak awal tahun 2018 terus mengalami tekanan, hingga sempat ke level Rp14.500 per USD. Melansir Bloomberg Dollar Index, Selasa (31/7/2018) pada perdagangan spot exchange rupiah ditutup membaik ke level Rp14.414 per USD.

Tekanan pada kurs rupiah ini pun disebabkan faktor eksternal yakni kebijakan Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) yang diprediksi hingga 4 kali tahun ini. Selain itu kondisi perang dagang antara AS-China yang kian memanas juga turut memukul kurs rupiah.

Wawancara Khusus Bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo 

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), menyatakan akan terus mengantisipasi ketidakpastian perekonomian global tersebut.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, sejak awal tahun hingga hari ini, rupiah terdepresiasi 6% ytd. Namun, angka ini dikatakan lebih rendah dari pelemahan mata uang negara berkembang lainnya.

"Ini lebih rendah dibandingkan pelemahan mata uang negara lainnya, seperti Filipina, India, Afrika Selatan, Brazil, dan Turki," sebut Perry dalam konferensi pers di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Selasa (31/7/2018).

Wawancara Khusus Bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo 

Sejumlah langkah kebijakan dilakukan Bank Sentral dengan memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial. Hal ini untuk menjaga daya tarik pasar keuangan domestik sekaligus menjaga momentum pemulihan ekonomi.

Langkah di antaranya, dengan menaikkan suku bunga acuan BI sebesar 50 basis poin menjadi 5, 25% pada rapat dewan Gubernur 20-28 Juni 2018 yang lalu. Selain itu, pelonggaran kebijakan untuk rasio Loan To Value (LTV) untuk mendorong sektor perumahan.

"Kami juga terus melakukan langkah-langkah stabilisasi melalui intervensi ganda baik di pasar valas maupun pembelian SBN," katanya.

Di samping itu, dilakukan langkah terkait dengan penerapan aturan Giro Wajib Minimum (GWM) rata-rata 2% atau naik setengah persen dari sebelumnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini