Bos BCA: Rupiah Bisa 'Lari' ke Mana-Mana dan Cadangan Devisa Terkuras

Ulfa Arieza, Jurnalis · Kamis 26 Juli 2018 21:17 WIB
https: img.okezone.com content 2018 07 26 278 1927919 bos-bca-rupiah-bisa-lari-ke-mana-mana-dan-cadangan-devisa-terkuras-HehkL3pUv0.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan. Rupiah bahkan sempat bergerak ke level Rp14.500 per USD.

Melansir Bloomberg Dollar Index hari ini, Kamis (26/7/2018), Rupiah pada perdagangan spot exchange ditutup menguat 12 poin atau 0,08% ke level Rp14.463 per USD.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menjelaskan, kurs Rupiah sejak awal tahun 2018 memang tercatat di sekitar level Rp13.000 per USD, namun saat ini terus terdepresiasi ke level Rp14.500 per USD, yang juga diikuti dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Menurutnya, kondisi ini tak hanya bisa dilihat dari sisi pelemahan Rupiah dan diiringi kenaikan suku bunga BI saja, melainkan ada faktor eskternal yang semakin memukul rupiah. Salah satunya, kebijakan Bank Sentral AS yang tahun ini sudah dua kali suku bunga acuannya berkali-kali, berimbas pada seluruh kurs mata uang di dunia.

 Nilai Tukar Rupiah atas Dolar Amerika Serikat Sempat Tembus Rp14.545

Di sisi lain, kebijakan pengetatan moneter AS ini pun diprediksi pasar akan berlanjut pada September dan Desember hingga tahun mendatang. Kondisi ini, membuat investor cenderung menanamkan dananya di negara mau dengan imbal hasil yang tinggi.

"Seorang investor itu, kalau US interest rate naik, mereka cenderung memindahkan dana di tempat yang bunganya tinggi. Itu naluri investor," jelas Jahja saat ditemui di Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, (26/7/2018).

Pelemahan kurs juga tak hanya dialami Indonesia, kata dia, yuan yakni mata uang China, euro hingga poundsterling ikut melemah, imbas dari penguatan dolar AS.

"Jadi memang seperti itu, mood-nya di dunia sedang mencari interest yang naik dan memang akan lebih tinggi. Itu tak bisa dihindarkan, mau tidak mau, suka tidak suka BI memang terpaksa menaikan bunga," katanya.

 Nilai Tukar Rupiah atas Dolar Amerika Serikat Sempat Tembus Rp14.545

Menurutnya, langkah BI menaikkan suku bunga acuan 100 bps pada bulan Mei dan Juni, serta menahan suku bunga acuan di level 5,25% pada bulan Juli, menjadi keputusan yang tepat. Jika tidak, kondisi kurs rRpiah akan bergerak lebih liar dan mempengaruh jumlah cadangan devisa lebih dalam.

"Kalau kemarin tidak dinaikkan (suku bunga acuan), Rupiah bisa lari ke mana-mana dan cadangan devisa kita bisa terkuras untuk menahan laju dolar AS. Memang seperti buah simalakama. Kalau dilihat ke depan situasi ini tidak selesai dalam waktu singkat," paparnya.

Dengan kondisi saat ini, menurut Jahja, Rupiah memang sulit untuk bergerak normal. Terlebih, sebagian besar bahan baku merupakan impor, hal ini menyebabkan harga pokok juga mengalami kenaikan. "Kalau harga tidak ikut dinaikkan maka profit akan turun, memang ini sedikit dilema," imbuh dia.

Padahal penguatan dolar AS, bisa berdampak baik jika kemampuan industri nasional mampu mengembangkan ekspor secara tinggi.

Menurutnya, kondisi ini membuat perbankan harus mewaspadainya, sebab masih akan berlangsung untuk jangka panjang.

"Kalau ini bukan sprint lagi, tapi marathon dan harus jaga ketahanan. Rezim bunga rendah sudah tidak ada lagi apalagi kalau bunga di AS naik kita juga terpacu untuk ikut naik," pungkasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini